Tampilkan postingan dengan label hegel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hegel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 November 2011

The Parallax View - Pengantar


Kamerads,
Posting ini adalah pengantar dari salah satu buku yang, menurutku, kayaknya adalah salah satu buku terbaik Zizek (dan Zizek sendiri pernah bilang klo buku ini adalah salah satu buku yang dia paling suka nulisnya, karena full theory, alias buerat), yaitu The ParallaxView, Terbitan MIT Press, 2006. Buku ini banyak mengupas penjelasan filosofis dari sejumlah fenomena penting hari ini yang dibagi dalam tiga tema utama, yaitu; problema ontologis masyarakat modern, perkembangan sains terbaru, dan masalah kebuntuan politik global.
Bagian pengantar ini berisi penjelasan konseptual tentang apa yang dimaksud dengan paralaks, yaitu kira2, sebuah cara memandang dua buah fenomena berbeda, yang sebenarnya mungkin dengan cara pandang biasa kita akan kesulitan menemukan titik temunya, tapi kalau kita lihat dengan cara paralaks ini, ternyata saling terkait erat.
Zizek kemudian memakai berbagai contoh dari bagaimana cara pandang paralaks ini bekerja, dimulai dengan berita di media tentang dua kejadian yang tampaknya sama sekali tidak berkaitan, yaitu tentang pemakaian pertama seni modern sebagai bagian dari alat penyiksaan dan kabar tentang kejadian yang sebenarnya dari kematian Walter Benjamin, tokoh Marxist di sekitar 1940an, sampai dengan, dan bukan Zizek namanya kalau tidak memakai contoh yang saru, menjlentrehkan tentang berbagai tafsir atas tindakan seksual, yang dibahas habis di 3 bab penghujung pengantar ini.
Dan karena saya juga, mengklaim diri, sebagai Zizekian par excellence, tentu saja bagian ini adalah yang saya highlight dengan satu kutipan panjang:
...‘progres’ dialektisnya harus melalui serangkaian variasi terkait dengan relasi antara wajah, alat kelamin, dan bagian tubuh lainnya, dan cara pemakaian masing-masing; organ tetap sebagai phallus, tapi bukaan/lubang [opening] yang akan dimasuki (dipenetrasi) berubah (anus, mulut). Lantas, melalui semacam ‘negasi dari negasi’, tidak hanya obyek yang harus dipenetrasi saja yang berubah, tapi totalitas dari orang yang menjadi pasangan juga beralih menjadi kebalikannya (homoseksualitas). Dengan perkembangan yang lebih lanjut, tujuan seks itu sendiri bukan lagi orgasme (fetisisme). Ngobek [fist-fucking] melengkapi rangkaian ini dengan sebuah sintesis yang mustahil dari tangan (organ dari kegiatan instrumental, untuk bekerja keras) dan vagina (organ penghasil sikap pasif ‘spontan’). Tangan (fokus dari kerja yang terencana, tangan sebagai bagian organ tubuh kita yang paling terkontrol dan terlatih) menggantikan phallus (wujud par excellence dari organ tubuh yang diluar kendali pikiran kita, karena ereksi bisa terjadi datang dan pergi diluar kehendak kita. Salah satu guyonan tentu saja, benda apa yang paling ringan? Penis, karena dia bisa kita angkat hanya dengan pikiran)
...dalam masturbasi maskulin, vagina, organ pasif paripurna, digantikan oleh tangan, organ aktif paripurna yang mempasifkan phallus itu sendiri.
Namun, ada kesimpulan yang kemudian ditarik oleh Zizek, yang membuat saya langsung lemes dan tidak lagi merasa percaya diri untuk bisa menjadi seorang Zizekian yang taat, karena Zizek lantas bilang:
bagi seorang filsuf sejati ada lebih banyak hal lain yang lebih menarik daripada seks.
Diamput, Ampun Slavojjjj....