Sabtu, 22 Oktober 2011

Living in the End Times - Pengantar


Memakai konsepsi terkenal dari psikolog kelahiran Swiss, Elisabeth Kubler-Ross, tentang reaksi orang ketika menerima sebuah kabar buruk yang menimpa dirinya, misalnya dia didiagnosa menderita penyakit akut, yaitu pengingkaran [denial], marah [anger], menawar [bargaining], depresi [depression] dan menerima [acceptance], Zizek dalam buku terbarunya yang berjudul Living in the End Times ini menjelaskan bagaimana masyarakat modern kita hari ini menerima kabar akan jalan buntu dan kemungkinan akan bencana yang ditimbulkan oleh sistem kapitalisme global hari ini.
Pengingkaran – menganalisa model dominan dari pengaburan ideologis, dari film laris Holywood terbaru sampai gerakan akhir jaman [apocalyptism] palsu, Kemarahan – melihat pada protes dengan kekerasan menentang sistem global, dan bangkitnya fundamentalisme agama, Menawar – fokus pada kritik ekonomi politik, dengan seruan untuk memperbarui resep dasar dari teori Marxist, Depresi – mempertimbangkan dampak dari kehancuran yang akan datang dalam aspeknya yang tidak banyak disadari, seperti munculnya bentuk baru patologi subyektif (subyek pasca-traumatis), Penerimaan – melihat tanda-tanda dari munculnya subyektivitas emansipatoris, memetakan bibit-bibit budaya komunis dalam berbagai bentuknya, termasuk di dalam karya sastra dan bentuk utopia lain 
Posting ini adalah bab pengantar dari buku ini, yang diberi judul "Keculasan Spiritual di Surga"

Pendahuluan: “Keculasan Spiritual di Surga”

Peringatan dua puluh tahun ambruknya Tembok Berlin seharusnya menjadi waktu untuk refleksi. Sudah menjadi semacam klise untuk menekankan sifat ‘ajaib’ dari peristiwa itu: seolah mimpi yang menjadi nyata. Dengan terjadinya disintegrasi Rejim Komunis, yang runtuh seperti rumah kartu, sesuatu yang tidak terbayangkan-pun terjadi, sesuatu yang mungkin tidak kita bayangkan bahkan beberapa bulan sebelumnya. Siapa di Polandia yang bisa membayangkan bakal ada pemilu yang bebas, atau Lech Walesa bakal menjadi presiden? Tapi kita juga harus mencatat bahwa ‘keajaiban’ yang bahkan lebih besar terjadi hanya beberapa tahun berikutnya: yaitu, kembalinya eks-Komunis ke tampuk kekuasaan melalui pemilu demokratis yang bebas, dan Walesa menjadi benar-benar tersingkir sehingga menjadi sosok yang bahkan lebih tidak populer dari dibanding orang yang, lima belas tahun sebelumnya mencoba menggilas gerakan Solidarnosc yang dia pimpin melalui kudeta militer – Jendral Wojciech Jaruzelski.
Penjelasan standar dari kejadian di Polandia ini biasanya adalah bahwa hal ini disebabkan karena ekspektasi utopian ’kekanakan’ dari mayoritas rakyat disana, yang keinginannya dianggap masih kontradiktif atau inkonsisten. Rakyat ingin mendapat kue dan memakannya – mereka ingin kebebasan kapitalis-demokratis dan kelimpahan material – namun tidak mau menanggung biaya dari hidup di dalam ‘masyarakat resiko’, yaitu tanpa kehilangan jaminan keamanan dan kestabilan yang (lebih kurang) mereka pernah rasakan di bawah rejim komunis. Sebagai mana dicatat secara sarkastis oleh sejumlah pengamat di Barat, perjuangan mulia untuk mencapai kebebasan dan keadilan ternyata hanya berarti sebatas keinginan untuk menikmati pisang dan pornografi.
Ketika kekecewaan mulai dirasakan, ini memicu tiga jenis reaksi (yang kadang berlawanan, kadang bersilangan), yaitu: (1) nostalgia akan masa ‘bahagia’ komunis;[1] (2) Populisme nasionalis sayap-kanan; (3) paranoia anti-Komunis yang diperbarui dan ‘kasep’. Dua reaksi pertama cukup mudah dipahami. Khususnya yang berupa nostalgia Komunis, itu tidak perlu ditanggapi serius: bukannya menunjukkan harapan murni untuk kembali ke realitas gelap dari rejim sebelumnya, ini sebenarnya lebih sebagai bentuk ekspresi berkabung, proses mengenang dan meninggalkan masa lalu. Bangkitnya populisme sayap-kanan juga bukan monopoli Eropa Timur, tapi ciri umum di semua negara yang terjebak dalam pusaran globalisasi. Yang lebih menarik adalah bentuk reaksi yang ketiga, kemunculan kembali paranoia anti-komunis dua dekade kemudian. Atas pertanyaan: “Kalau kapitalisme memang jauh lebih baik dari sosialisme, kenapa kondisi kehidupan kita masih susah?” jawabannya mudah: karena kita sebenarnya belum berada di dalam kapitalisme, sebab Komunis masih berkuasa, hanya sekarang memakai topeng baru berupa pemilik dan manajer…
Adalah fakta yang jelas, diantara orang yang menentang  rejim Komunis di Eropa Timur, sebagian besar dari mereka tidak menuntut adanya masyarakat kapitalis. Mereka meminta jaminan sosial, solidaritas, semacam keadilan; mereka ingin bebas menjalani hidup mereka diluar campur tangan negara, untuk bisa berkumpul dan berbicara sesuka mereka; mereka ingin kehidupan yang bebas dari indoktrinasi ideologis yang primitif dan kemunafikan sinis. Seperti sudah banyak dilihat oleh para pengamat yang teliti, gambaran ideal yang mengilhami para pemrotes itu sebagian besar diambil dari ideologi sosialis yang berkuasa itu – mereka menginginkan apa yang bisa disebut sebagai ‘Sosialisme dengan wajah manusiawi.’
Pertanyaan pentingnya adalah bagaimana kita membaca kandasnya harapan ini. Jawaban standarnya, seperti sudah kita ketahui, adalah penerapan realitas kapitalisme: rakyat hanya tidak memiliki gambaran realistis terhadap kapitalisme; mereka penuh harapan utopian kekanakan. Pagi hari setelah bangun dari mabuk kegembiraan atas kemenangan, orang harus sadar dan menghadapi konsekuensi proses melelahkan untuk belajar aturan dari penguasa baru, harus menghadapi harga yang harus dibayar dari kebebasan politik dan ekonomi yang mereka terima. Akibatnya, seolah sayap-Kiri Eropa harus mati dua kali: pertama sebagai sayap-Kiri Komunis ’totaliter’, kedua sebagai sayap-Kiri Demokratis ’moderat’, yang beberapa tahun terakhir, semakin kehilangan dukungan di Itali, Prancis dan Jerman. Sampai satu titik, proses ini bisa dijelaskan oleh fakta bahwa kelompok moderat, bahkan konservatif yang kini mulai menanjak telah mengadopsi banyak perspektif tradisional dari sayap-Kiri (dukungan terhadap negara kesejahteraan, toleransi kepada minoritas, dsb); sampai tingkat dimana seandainya orang seperti Angela Merkel menyampaikan programnya di AS, dia akan dengan mudah dituduh sebagai sayap-Kiri radikal. Tapi ini tidak sepenuhnya benar. Dalam alam demokrasi pasca-politik hari ini, perbedaan dua-kutub tradisional antara kubu Sosial-Demokratik Moderat-Kiri dengan kubu Konservatif Moderat-Kiri secara bertahap digantikan oleh dua-kutub antara politik dan pasca-politik: kubu teknokrat-liberal multikulturalis-toleran dari pemerintahan pasca-politik dengan lawan Populis-Kanan-nya dari perjuangan politik yang gigih – tidak heran bahwa pertentangan Moderat lama (Konservatif atau Kristen-Demokrat dan Sosial-Demokrat atau Liberal) seringkali harus bergabung untuk melawan musuh bersama.[2] (Freud menulis tentang Unbehagen in der Kultur, Ketidakpuasan di dalam Budaya; hari ini, dua puluh tahun setelah runtuhnya tembok Berlin, kita mengalami semacam Unbehagen di dalam kapitalisme liberal. Pertanyaan kuncinya sekarang adalah: siapa yang akan mengartikulasikan ketidakpuasan ini? Apakah dibiarkan untuk dimanfaatkan oleh kalangan populis nasionalis? Inilah yang menjadi tugas penting dari kalangan Kiri.
Apakah, kita menolak penjelasan bahwa dorongan utopian yang memicu protes anti-Komunis sebagai tanda dari ketidak-dewasaan, atau mempercayainya begitu saja? Di titik ini, menarik untuk dicatat bahwa penolakan terhadap Komunisme di Eropa Timur terjadi dalam tiga bentuk yang berurutan: (1) Kritik Marxist ”revisionis’’ terhadap Sosialisme yang dijalankan (”ini bukan Sosialisme sejati, kta perlu kembali ke visi otentik dari Sosialisme sebagai masyarakat yang bebas, dsb”) – disini kita bisa lihat kesamaan dengan proses serupa yang terjadi di awal periode modern di Eropa, dimana oposisi sekuler terhadap peranan hegemonik agama awalnya harus berkedok gerakan sempalan agama; (2) tuntutan untuk ruang otonomi dari masyarakat sipil yang terbebas dari kekangan kontrol Negara-Partai (ini adalah posisi resmi dari Solidarity selama beberapa tahun pertama gerakan ini – pesannya kepada Partai Komunis adalah: ”kita tidak ingin kekuasaan, kita hanya ingin ruang yang bebas diluar kontrol kalian dimana kami bisa melakukan refleksi kritis atas apa yang tengah terjadi di masyarakat”); (3) yang terakhir, perlawanan terbuka untuk merebut kekuasaan: ”kami memang ingin kekuasaan yang demokratis dan sah; yang berarti waktunya kalian untuk pergi”. Apakah dua bentuk yang pertama  hanya sekedar ilusi (atau, semacam kompromi strategis), dan karena itu harus dibuang?

Asumsi dasar dari buku ini sederhana: sistem kapitalis global mendekati titik-nol kehancurannya. “Empat pendorong“-nya adalah krisis ekologis, konsekuensi dari revolusi biogenetis, ketidakseimbangan dari sistem itu sendiri (masalah kekayaan intelektual, perebutan atas bahan baku, energi, pangan dan air), serta peningkatan tajam dari kesenjangan kelas dan peminggiran sosial.
Sekedar memberi contoh dari poin terakhir, tempat yang tidak ada bandingannya dimanapun, yang menunjukkan bentuk baru apartheid bisa kita temukan di negara kaya minyak di Timur Tengah – Kuwait, Arab Saudi, Dubai. Tersembunyi di pinggiran kota, sering secara harfiah benar-benar berada dibalik tembok, terdapat puluhan ribu pekerja imigran yang ’tak-terlihat’ yang mengerjakan semua pekerjaan kasar, dari mulai pelayan sampai konstruksi, terpisah dari keluarga mereka dan tidak diberikan keistimewaan sama sekali.[3] Situasi semacam ini jelas mengandung potensi eksplosif yang, sementara sekarang dimanfaatkan oleh fundamentalis-agama, seharusnya bisa diarahkan oleh kelompok-Kiri dalam perjuangannya menentang eksploitasi dan korupsi. Negara seperti Arab Saudi secara harfiah benar-benar ’diluar korupsi’: tidak perlu korupsi karena geng yang berkuasa (keluarga kerajaan) sudah menguasai seluruh kekayaan, yang bebas dibagi menurut selera mereka. Kalau situasi seperti ini terus berlanjut, bisakah bahkan kita bayangkan perubahan yang akan terjadi dalam ’perasaan kolektif’ dari masyarakat Barat ketika (bukan seandainya, tapi benar-benar ketika) sejumlah ’negara jahat’ atau kelompok radikal tertentu mendapatkan senjata nuklir, biologis atau kimia yang dahsyat, dan menyatakan kesiapan ’irasional’ mereka tanpa peduli resiko apapun untuk memakainya? Posisi paling dasar dari kesadaran terpaksa akan berubah, selama seperti sekarang, kita hidup didalam situasi pengingkaran fetisistis kolektif: kita tahu benar bahwa ini suatu ketika akan terjadi, tapi tetap saja tidak bisa benar-benar mempercayainya bahwa ini akan terjadi. Upaya AS untuk mencegah hal ini untuk terjadi melalui berbagai tindakan mendahului [pre-emptive] adalah pertarungan yang dari sejak awal sudah kalah duluan: anggapan apapun bahwa ini akan berhasil hanya berdasar pada visi fantasmatis.
Bentuk ’peminggiran inklusi’ yang lebih sering terjadi adalah daerah kumuh [slums] – wilayah yang luas diluar kendali negara. Sementara biasanya dilihat sebagai ruang dimana geng dan sekte agama tertentu bertarung untuk berebut kuasa, daerah kumuh juga memungkinkan ruang bagi organisasi politik radikal, seperti kasus di India, dimana gerakan kecil bersenjata Maois mengorganisir ruang sosial alternatif. Mengutip pernyataan resmi pemerintah India: “Poinnya adalah kalau kita tidak mengontrol sebuah wilayah, maka itu bukan milik anda. Kecuali di peta, itu bukan bagian dari India. Setidaknya separuh dari India hari ini adalah wilayah diluar kontrol negara...Anda harus menciptakan masyarakat yang lengkap dimana penduduk lokal mempunyai peranan penting didalamnya. Dan kami tidak bisa melakukan hal itu...Karena itulah ini lantas memberi ruang bagi Maois untuk masuk.”[4]
Meskipun tanda-tanda serupa dari ’kekacauan besar di bumi’ sangat banyak, tapi kebenaran selalu menyakitkan, dan kita mencoba dengan segala cara untuk mengabaikannya. Untuk menjelaskan bagaimana, kita bisa memakai petunjuk yang tidak terduga. Psikolog kelahiran Swiss, Elisabeth Kubler-Ross mengusulkan skema terkenal dari lima tahap untuk perkabungan, yang terjadi ketika, misalnya, mengetahui bahwa kita sedang sakit parah: pengingkaran (kita menolak begitu saja untuk menerima fakta: ”Ini tidak mungkin terjadi, tidak kepadaku”); marah (yang meledak begitu kita tidak lagi mengingkari fakta itu: ”Bagaimana ini bisa terjadi kepadaku?”); menawar (dengan harapan bahwa kita entah-bagaimana bisa menunda atau menghilangkan fakta itu: ”tolong ijinkan saya hidup sampai bisa melihat anak-anak saya lulus kuliah”); depresi (tidak lagi tertarik dengan hal-hal libidinal: ”Saya toh akan mati, kenapa peduli dengan segala hal?”); dan penerimaan (Saya tidak mungkin melawan, jadi lebih baik bersiap menghadapinya”). Belakangan, Kubler-Ross menerapkan skema ini kepada berbagai bentuk kesusahan pribadi yang besar lainnya (kehilangan pekerjaan, kematian orang yang disayangi, perceraian, kecanduan obat), menekankan bahwa lima tahap ini tidak selalu berurutan, ataupun dialami oleh semua pasien.[5]
Kita bisa menerapkan kelima tahapan itu didalam bagaimana kesadaran sosial kita mencoba menanggapi kehancuran dunia yang akan terjadi. Reaksi pertama adalah pengingkaran ideologis: tidak terjadi kekacauan fundamental; kedua dicontohkan dengan letupan kemarahan terhadap ketidakadilan dari tatanan dunia baru; ketiga meliputi upaya untuk menawar (”kalau kita merubah ini dan itu, hidup mungkin bisa kembali seperti semula”); ketika upaya menawar gagal, depresi dan penarikan diri mulai dilakukan; akhirnya, setelah melalui tahapan kritis ini dilewati, subyek tidak lagi menganggap situasi ini sebagai ancaman, tapi sebagai sebuah peluang untuk awal yang baru – atau seperti dikatakan Mao Zedong: ”Kalau ada kekacauan besar di bumi, itu adalah situasi yang sempurna.”
Buku ini disusun kedalam lima bab yang mengikuti lima tahapan itu. Bab 1 – pengingkaran – menganalisa model dominan dari pengaburan ideologis, dari film laris Holywood terbaru sampai gerakan akhir jaman [apocalyptism] palsu (aliran Jaman-Baru [New-Age], dsb). Bab 2 – kemarahan – melihat pada protes dengan kekerasan menentang sistem global, dan bangkitnya fundamentalisme agama. Bab 3 – menawar – fokus pada kritik ekonomi politik, dengan seruan untuk memperbarui resep dasar dari teori Marxist. Bab 4 – depresi – mempertimbangkan dampak dari kehancuran yang akan datang dalam aspeknya yang tidak banyak disadari, seperti munculnya bentuk baru patologi subyektif (subyek pasca-traumatis). Akhirnya bab 5 – penerimaan – melihat tanda-tanda dari munculnya subyektivitas emansipatoris, memetakan benih budaya komunis dalam berbagai bentuknya, termasuk di dalam karya sastra dan bentuk utopia lain (dari komunitas tikus-nya Kafka sampai kumpulan orang-orang terpinggirkan yang aneh dalam serial TV, Heroes). Rangka dasar dari buku ini juga dilengkapi dengan empat interlude, masing-masing berisi variasi tema dari bab sebelumnya.
Kepindahan kepada sebuah antusiasme emansipatoris hanya terjadi ketika fakta yang traumatis itu tidak hanya diterima sebagai bagian terpisah dari diri kita, tapi sepenuhnya kita jalani: ”Kebenaran harus dijalani, bukan diajarkan. Bersiap untuk perang!” Seperti kalimat terkenal dari Rilke, ”karena tidak ada tempat yang tidak melihatmu. Kamu harus merubah hidupmu,” dan kalimat berikut dari karya Hermann Hesse, The Glass Bead Game mau tidak mau tampak sebagai ketidak-ajegan yang aneh: kalau Sesuatu menatap balik kepadaku dari segala arah, lantas kenapa ini mewajibkan aku merubah hidupku? Kenapa tidak justru melakukan hal mistis dimana aku ”keluar dari diriku” dan menjadi seperti tatapan yang lain? Sama halnya, kalau kebenaran harus dijalani, kenapa harus dengan berjuang? Kenapa tidak justru melakukan meditasi internal? Alasannya adalah bahwa sifat ’spontan’ dari kehidupan sehari-hari kita itu adalah kebohongan yang dijalani, dan untuk keluar dari kehidupan semacam ini memerlukan perjuangan yang terus menerus. Titik awal dari proses ini adalah merasa takut dengan diri kita sendiri. Ketika, dalam karya awalnya, “Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right,” Marx menganalisa ketertinggalan Jerman, dia melakukan observasi – yang jarang diketahui tapi sangat penting – terhadap kaitan antara, malu, teror dan keberanian:
Beban yang sebenarnya harus dibuat lebih berat lagi dengan cara menyadari hal itu. Rasa malu harus ditingkatkan dengan mengumumkannya. Setiap ruang dari masyarakat Jerman harus dilihat sebagai aib dari masyarakat itu dan kondisi yang mengenaskan ini harus dibuat berjoget mengiringi gendang yang dimainkan kepada mereka! Rakyat harus ditempatkan ke dalam teror untuk memberi mereka keberanian.[6]
Dan inilah tugas kita hari ini, ketika menghadapi sinisme tanpa-malu dari tatanan global yang ada.
Untuk itu, kita tidak perlu takut belajar dari musuh kita. Setelah menemui Nixon dan Kissinger, Mao berkata: ”Saya ingin berhubungan dengan kaum-Kanan. Mereka mengatakan hal yang benar-benar mereka pikirkan – tidak seperti kaum-Kiri, yang mengatakan satu hal tapi maksudnya lain.” Ada kebenaran mendasar dari observasi ini. Pelajaran dari Mao sekarang justru lebih relevan dibanding masanya dulu: kita bisa banyak belajar dari kalangan konservatis-kritis yang intelek (bukan kaum-reaksioner) dibanding dari kalangan progresif-liberal. Kalangan progresif-liberal cenderung mengabaikan ’kontradiksi’ yang inheren dalam tatanan yang ada sedangkan konservatis-kritis siap mengakui bahwa ini memang ini tidak bisa diatasi. Apa yang disebut oleh Daniel Bell sebagai ’kontradiksi kultural dari kapitalisme, yang memerlukan sebuah ideologi konsumeris, semakin mereduksi justru perilaku (etika protestan) yang dari awal memungkinkan lahirnya kapitalisme – kapitalisme hari ini semakin berfungsi sebagai ’pelembagaan dari rasa iri-hati.’
Kebenaran yang kita hadapi disini bukan kebenaran ’obyektif’, tapi kebenaran yang mengaitkan-diri dengan posisi subyektif diri kita sendiri; sehingga, ini adalah kebenaran yang terlibat, diukur tidak hanya dari akurasi faktualnya tapi oleh caranya mempengaruhi posisi subyektif dari pengucapan [enunciation]. Dalam seminar 18 tentang ”diskursus yang tidak akan menjadi nyata,” Lacan memberi sebuah definisi yang menarik akan kebenaran dari interpretasi di dalam psikoanalisa: “interpretasi tidak diuji oleh kebenaran yang akan diputuskan dengan ya atau tidak, tapi justru membebaskan kebenaran itu sendiri. Dia hanya benar sepanjang dia benar-benar diikuti.” Tidak ada hal ’teologis’ dari formulasi yang sangat jitu ini, hanya dengan wawasan terhadap persatuan dialektis yang tepat dari teori dan praktis di dalam (tidak hanya) interpretasi psikoanalitis: ’ujian’ dari interpretasi analis terletak dari dampak-kebenaran yang dia bebaskan di dalam diri si pasien. Cara ini jugalah yang harus kita pakai untuk membaca (ulang) Thesis XI Marx: ’ujian’ dari teori Marxist adalah dampak-sebenarnya yang dia bebaskan dari yang tertuju-nya (proletariat), dalam mentrasformasikan mereka menjadi subyek revolusioner.
Doktrin communis bahwa ”Kamu harus melihat agar percaya!” harus selalu dibaca bersama dengan kebalikannya: “Kamu harus percaya agar bisa melihatnya!” Meskipun mungkin kita tergoda untuk menentang perspektif ini – dogmatisme dari keyakinan buta versus keterbukaan kepada yang tak terduga – kita tetap harus yakin terhadap kebenaran yang terkandung di dalam versi yang kedua: kebenaran, berkebalikan dengan pengetahuan, adalah seperti Event Badiouian, sesuatu yang hanya tatapan yang terlibat, tatapan dari sebuah subyek yang ’percaya kepada-nya,’ yang akan bisa melihatnya. Ambil contoh cinta: di dalam cinta, hanya si pecinta yang melihat di dalam obyek yang dicinta Sesuatu yang menjadi penyebab dari cinta itu, obyek-paralaks; dalam hal ini struktur cinta adalah sama dengan konsep Event dari kalangan Badiouian, yang hanya eksis bagi mereka yang mengenali mereka di dalamnya: tidak akan ada Peristiwa bagi pengamat obyekti yang tidak terlibat. Dengan tidak terlibat, semata deskripsi dari situasi, seberapapun akurat, tidak akan bisa menghasilkan dampak emansipatoris – akhirnya, mereka hanya membuat beban dari kebohongan itu menjadi semakin menyakitkan, atau kembali mengutip Mao, ”mengangkat batu hanya untuk dijatuhkan ke kaki sendiri.”
Ketika pada tahun 1948 Sartre melihat bahwa dia tampaknya akan dimanfaatkan oleh kedua kubu dari Perang Dingin, dia menulis: ”kalau itu akan terjadi, hanya akan membuktikan satu hal; apakah aku sangat ceroboh, atau aku di jalan yang benar”.[7] Dan serupa dengan itu, begitu juga yang sering saya rasakan: saya diserang karena dianggap sebagai anti-semitis sekaligus menyebarkan kebohongan Zionist, karena dianggap mata-mata nasionalis Slovenia sekaligus pengkhianat yang tidak patriotis terhadap negara saya sendiri[8], karena dianggap sebagai kripto-Stalinis dan penyebar teror sekaligus menyebarkan kebohongan borjuis tentang Komunisme... Sehingga mungkin, mungkin saja, saya berada di jalur yang benar, jalur ketaatan menuju kebebasan.[9] Didalam sebuah dialog yang terlalu sentimental-humanis dari karya Stanley Kubrick, Spartacus, terjadi percakapan antara Spartacus dan seorang bajak laut yang menawarkan untuk menyediakan angkutan bagi para budak untuk menyeberangi selat Adriatik. Bajak laut itu bertanya terus terang kepada Spartacus apakah dia sadar bahwa perlawanan budak itu akan gagal, cepat atau lambat mereka akan digilas oleh tentara Romawi; akankah dia tesus melawan sampai akhir, meskipun menghapi kekalahan yang tak bisa dihindari? Jawaban Spartacus adalah: perjuangan para budak itu bukan sekedar upaya pragmatis untuk memulihkan posisi mereka, tapi merupakan perlawanan yang prinsipil atas nama kebebasan, sehingga meskipun mereka akhirnya kalah dan terbunuh semuanya, perlawanan mereka tidak akan sia-sia karena mereka sudah menunjukkan komitmen tanpa syaratnya untuk menuju kebebasan – dengan kata lain, tindakan perlawanan itu sendiri, apapun hasilnya, sudah bisa dianggap keberhasilan, sepanjang itu mencontohkan Ide abadi akan kebebasan (dan disini kita perlu memberi penekanan Platonis sepenuhnya terhadap kata ’Ide’).
Karena itu buku ini adalah buku perlawanan, mengikuti definisi dari Paulus yang secara mengejutkan sangat relevan: ”Agar perjuangan kita tidak melawan daging dan darah [manusia biasa], tapi menentang para pemimpin, menentang pemegang otoritas, menentang penguasa dunia atas semua kejahatan ini, menentang keculasan spiritual di surga.” (Ephesias 6:12). Atau diterjemahkan ke dalam bahasa sekarang: ”Perjuangan kita tidak melawan individu tertentu, tapi menentang mereka yang berkuasa, melawan otoritas mereka, melawan tatanan global dan mistifikasi ideologis yang menunjangnya.” Untuk terlibat dalam perjuangan ini berarti mendukung formula dari Badiou, mieux vaut un desastre qu’un desetre: lebih baik mengambil resiko dan terlibat dengan kesetiaan kepada Event-Sejati, meskipun jika ini berakhir dengan kehancuran, daripada membusuk didalam upaya bertahan utilitarian-hedonis tanpa-event dari apa yang disebut Nietzsche sebagai ’manusia terakhir.’ Yang ditolak oleh Badiou karena itu adalah ideologi liberal dari ke-korban-an [victimhood], dengan reduksi dari politik menjadi sebuah program untuk menghindari yang terburuk, untuk renouncing semua proyeksi positif dan mengejar pilihan yang paling tidak jelek dari yang jelek. Terlebih seperti yang Arthur Feldmann, penulis Yahudi dari Wina, katakan: harga yang biasanya kita bayar agar bisa selamat adalah hidup kita.



Catatan

[1] Kemandegan dari Sosialisme Negara-Partai abad 20 sangat jelas. Dalam sebuah pidato terbuka pada Agustus 2009, Raul Castro menyerang mereka yang hanya berteriak ”Hancurkan imperialisme AS! Hidup Revolusi!”, bukannya melibatkan diri dalam kerja-kerja yang sulit dan sabar. Menurut Castro, semua kesalahan dari kondisi di Kuba (tanah yang subur tapi harus mengimpor 80 persen kebutuhan pangannya) bisa diarahkan pada embargo AS: di satu sisi banyak orang yang menganggur, disisi lain ada banyak tanah yang tidak tergarap. Namun Castro lupa menempatkan posisinya didalam gambaran yang dia jelaskan: kalau orang tidak menggarap tanahnya, jelas ini bukan karena mereka malas, tapi karena ekonomi yang dikelola negara tidak mampu menyediakan mereka pekerjaan. Jadi, bukannya menyalahkan rakyat biasa, dia seharusnya menerapkan moto lama Stalinis yang menganggap bahwa motor dari kemajuan di dalam Sosialisme adalah swa-kritik, sehingga dia justru perlu mengkritik sistem yang dia dan Fidel kendalikan itu sendiri. Disini, lagi-lagi, kesalahannya terletak pada pandangan kritis yang melihat kejelekan disekitarnya...
[2] Dua peristiwa penting terjadi pada Mei 2008. Di Itali, massa membakar sejumlah pemukiman kumuh kaum Roma di pinggiran kota Roma (yang diam-diam disetujui oleh pemerintah Populis-Kanan yang baru): kejadian ini mau tidak mau memaksa kita mengingat pandangan Husserl bahwa, meskipun Gipsy telah hidup selama berabad-abad di Eropa, mereka tidak benar-benar menjadi bagian dari ruang spiritual Eropa – pandangan yang semakin aneh ketika kita ingat bahwa Husserl menulit ini ketika Nazi sudah berkuasa dan dia dipecat dari Universitas justru atas alasan yang sama – disini kaum miskin Roma praktis dilihat sebagai semacam Yahudi pengganti. Peristiwa lain terjadi di Afrika Selatan, ketika massa menyerang pengungsi dari negara lain (khususnya Zimbabwe), menuduh bahwa para pengungsi itu mencuri pekerjaan dan rumah mereka – contoh dari rasisme populis Eropa yang terjadi diantara kaum kulit Hitam Afrika.
[3] Lihat artikel Johann Hari yang berjudul, “Kediktatoran yang bangkrut secara moral dan dibangun oleh buruh budak,“ di Indendent, 27 Novermber 2009, hal.6. Tidak terlihat oleh mereka yang mengunjungi Dubai untuk tujuan bermewah-mewah di surga konsumeris kelas-atas, pekerja imigran terkurung di pinggiran kota yang jorok tanpa pendingin ruangan. Mereka dibawa ke Dubai dari Bangladesh atau Filipina, tertarik oleh janji upah yang tinggi; begitu di Dubai, passport mereka disita, dan diberitahu bahwa upahnya jauh lebih rendah dari yang dijanjikan, sehingga mereka harus bekerja selama bertahun-tahun dalam kondisi yang penuh resiko hanya untuk menutupi hutang mereka (untuk menutupi biaya perjalanan mereka ke Dubai); kalau mereka protes atau mogok kerja, mereka akan dipukuli atau diserahkan kepada polisi begitu saja. Inilah realitas yang didukung oleh aktivis ’kemanusiaan’ hebat seperti Brad Pitt yang berinvestasi besar-besaran di Dubai.
[4] Sudep Chakravarti, Red Sun, New Delhi: Penguin Books 2009, hal.112
[5] Lihat Elisabeth Kubler-Ross, On Death and Dying, New York: Simon and Schuster 1969.
[6] Karl Marx, “A Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right, Introduction,” in Early Writings, introduced by L. Colleti, Harmondsworth: Penguin 1975, hal. 247.
[7] Dikutip dari Ian H. Birchall, Sartre Against Stalinism, New York: Berghahn Books 2004, hal.3
[8] Golda Meir pernah berkata: ”Kita bisa mema’afkan bangsa Arab karena membunuh anak-anak kita. yang tidak bisa kita ma’afkan adalah karena mereka memaksa kita untuk membunuh anak-anak mereka.” Senada dengan hal ini, saya tergoda untuk mengatakan: “Saya bisa mema’afkan mereka yang menyerang saya sebagai orang Slovenia yang jahat atas apa yang mereka lakukan, tapi saya tidak akan pernah bisa mema’afkan mereka karena memaksa saya untuk bertindak mewakili kepentingan orang Slovenia, sehingga saya harus menentang rasisme primitif mereka.
[9] Kesetiaan harus dibedakan dengan ketaatan buta: keterikatan fanatis seorang zealot terhadap Cita-citanya adalah tidak lebih dari sekedar ekspresi putusa asa dari ketidakpastian dan keraguan-nya, dari kekurang percayaaanya terhadap cita-cita itu. Sebuah subyek yang benar-benar berdedikasi terhadap cita-citanya memposisikan fidelity abadinya dengan cara pengingkaran yang terus menerus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar